Psychology Insight

Mengapa Kita Sering Merasa Tertinggal? Memahami Psikologi di Balik Kebiasaan Membandingkan Diri

Kita sering membandingkan “behind the scenes” hidup kita dengan “highlight” hidup orang lain. Padahal, setiap orang punya titik awal, kesempatan, dan timeline yang berbeda.

AN
Aisyah Nisa Azzahra
· 3 menit baca

Pernahkah kita membuka media sosial, melihat seseorang yang seumuran sudah mencapai sesuatu, lalu tanpa sadar bertanya kepada diri sendiri, “Kenapa aku belum seperti dia?”

Padahal beberapa menit sebelumnya, kita baik-baik saja.

Perasaan seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk melakukan social comparison, yaitu membandingkan diri dengan orang lain untuk memahami posisi, kemampuan, maupun pencapaian dirinya.

Masalahnya, di era media sosial, kita semakin mudah menemukan bahan untuk membandingkan diri .Kita dapat melihat pencapaian orang lain hanya dalam hitungan detik: seseorang diterima di kampus impian, memenangkan perlombaan, memiliki pekerjaan, menerbitkan buku, bepergian, atau terlihat menjalani kehidupan yang menyenangkan.

Yang sering kita lupakan adalah: kita sedang membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan potongan kehidupan orang lain.

Media sosial pada dasarnya hanya memperlihatkan bagian tertentu dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu melihat proses, kegagalan, penolakan, atau masalah yang mungkin mereka hadapi. Karena itu, perbandingan tersebut tidak selalu memberikan gambaran yang utuh. Apa yang tampak di media sosial hanyalah sebagian dari kehidupan seseorang.

Penelitian mengenai media sosial dan kesehatan mental remaja juga menunjukkan bahwa hubungannya tidak sesederhana “media sosial selalu buruk”. Dalam umbrella review, Sala, Porcaro, dan Gómez (2024) meninjau berbagai penelitian tentang penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja. Mereka menemukan bahwa hubungan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk karakteristik individu, jenis penggunaan media sosial, serta konten dan desain platform. 

Saleem, Young, dan Yousuf (2024) menemukan bahwa perbandingan sosial merupakan salah satu mekanisme yang dapat mempengaruhi hubungan antara penggunaan media sosial dan gejala kecemasan maupun depresi pada anak dan remaja. 

Namun, membandingkan diri sebenarnya tidak selalu berdampak negatif.

Perbandingan dapat menjadi bahan evaluasi dan motivasi. Melihat keberhasilan orang lain terkadang membuat kita menemukan inspirasi atau menyadari kemampuan yang ingin kita kembangkan. Yang menjadi masalah adalah ketika perbandingan mulai menjadi dasar seseorang dalam menilai dirinya sendiri.

Kita mulai berpikir:

“Dia sudah sejauh itu, berarti aku gagal.”

Padahal kecepatan seseorang tidak menentukan nilai dirinya, begitu pula kecepatan kita tidak menentukan nilai diri kita.

Ada orang yang menemukan jalannya lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami apa yang sebenarnya diinginkan. Ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama karena memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda

Maka, mungkin pertanyaan yang lebih sehat bukanlah “Mengapa aku tidak seperti dia?”, tetapi:

“Apa yang bisa kupelajari dari dia tanpa harus kehilangan penghargaan terhadap diriku sendiri?”

Kita tetap boleh mengagumi pencapaian orang lain tanpa menjadikannya alasan untuk merendahkan diri sendiri.

Sebab hidup bukan perlombaan dengan satu garis waktu yang berlaku untuk semua orang. Setiap orang memiliki titik awal, keadaan, kesempatan, dan proses yang berbeda.

Pada akhirnya, dalam konteks psikologi, melihat keberhasilan orang lain tidak selalu perlu dihindari. Kita hanya perlu belajar melihat orang lain sebagai sumber informasi, bukan sebagai alat ukur harga diri.

Karena mungkin, yang selama ini membuat kita merasa tertinggal bukan karena hidup kita benar-benar terlambat—melainkan karena kita terlalu sering melihat perjalanan orang lain sambil lupa memperhatikan sejauh apa diri kita sendiri telah berjalan.

Referensi

Gerber, J. P., Wheeler, L., & Suls, J. (2018). A Social Comparison Theory Meta-Analysis 60+ Years On. Psychological Bulletin, 144(2), 177–197. 

Valkenburg, P. M., Meier, A., & Beyens, I. (2022). Social media use and its impact on adolescent mental health: An umbrella review of the evidence. Current Opinion in Psychology, 44, 58–68. 

Saleem, N., Young, P., & Yousuf, S. (2024). Exploring the Relationship Between Social Media Use and Symptoms of Depression and Anxiety Among Children and Adolescents. 

Sumber gambar: OSC Medcom (Fitriningtyas, 2022)

AN
Ditulis oleh Aisyah Nisa Azzahra

Penulis tamu Narajiwa.