Pernahkah kita mengatakan “iya” ketika sebenarnya ingin berkata “tidak”? Tersenyum ketika sedang kecewa? Tetap bertahan dalam sebuah hubungan karena takut sendirian atau takut tidak disukai, meskipun tanpa sadar kita justru semakin jauh dari diri sendiri?
Sering kali, kita tidak kehilangan diri sendiri dalam satu peristiwa besar. Kita meninggalkannya sedikit demi sedikit ketika terlalu takut mengecewakan orang lain, terlalu terbiasa menyesuaikan diri, atau terlalu sibuk memenuhi harapan yang bahkan tidak pernah benar-benar kita pilih. Kadang, kita juga mengejar pujian, pengakuan, atau validasi, seolah ketika semua itu terpenuhi, kita akan merasa aman, memiliki “rumah”, dan dianggap ada.
Mungkin, sebagian pola yang kita jalani hari ini juga terbentuk dari pengalaman ketika kita tumbuh. Orang tua mungkin memiliki niat yang baik, tetapi cara mereka mendidik, pengalaman yang mereka bawa, dan hal-hal yang belum sempat mereka kelola bisa saja ikut memengaruhi cara kita belajar melihat diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain.
Padahal, kita memang membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan teman, keluarga, pasangan, dan lingkungan tempat kita merasa diterima. Namun, kebutuhan untuk terhubung tidak seharusnya membuat kita kehilangan ruang untuk menentukan pilihan sendiri.
Dalam Self-Determination Theory, Ryan dan Deci (2000) menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Ketiganya berkaitan dengan motivasi dan kesejahteraan. Artinya, merasa dekat dengan orang lain dan tetap memiliki ruang untuk menentukan pilihan sendiri bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.
Bukan tentang memilih diri sendiri atau orang lain. Mungkin, ini tentang belajar mengenali, menerima, dan menghargai diri sendiri, sehingga kita bisa menyambut orang lain tanpa kehilangan kemampuan untuk menilai dengan kritis siapa yang kita izinkan menjadi “tamu” dalam kehidupan kita.
Karena itu, menjadi diri sendiri juga berarti memperhatikan apa yang kita biarkan masuk setiap hari. Konten yang kita konsumsi, percakapan yang kita dengarkan, dan orang-orang yang paling sering berada di sekitar kita dapat menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk pengalaman kita. Kita tidak harus menjauh dari semua hal yang berbeda, tetapi kita bisa bertanya: setelah berulang kali berada di ruang ini, apakah aku merasa semakin bebas menjadi diriku, atau justru semakin sibuk membuktikan bahwa aku layak diterima?
Mungkin karena takut tidak disukai, kita mulai mengiyakan terlalu banyak hal. Kita mengalah. Kita diam. Kita berkata, “tidak apa-apa,” meskipun sebenarnya ada sesuatu yang ingin kita sampaikan.
Sekali mungkin terasa sederhana. Namun, ketika terus diulang, kita bisa semakin sulit membedakan: “Aku melakukan ini karena memang aku mau, atau karena aku takut ditolak?”
Di titik tertentu, kita mungkin terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi merasa kosong di dalam. Kita tertawa, berbicara, menjalani hari seperti biasa, sementara ada bagian dari diri yang sebenarnya lelah karena terlalu lama tidak didengarkan.
Lalu kita bertanya: kapan terakhir kali kita benar-benar berhenti dan bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana kabarmu sekarang?”
Bukan, “Apa yang sudah kamu capai?” Bukan, “Kenapa kamu belum seperti orang lain?” Bukan pula, “Kapan kamu menjadi lebih baik?”
Hanya: “Bagaimana kabarmu?”
Pertanyaan sederhana itu memberi ruang untuk menyadari apa yang sedang terjadi di dalam diri. Sedih, takut, marah, kecewa, bingung, atau lelah, semuanya boleh dikenali tanpa harus langsung dihakimi.
Di sinilah self-compassion menjadi penting. Neff (2003) menjelaskan self-compassion melalui tiga unsur: kebaikan terhadap diri, kesadaran terhadap pengalaman yang sedang terjadi, dan pemahaman bahwa kesulitan merupakan bagian dari pengalaman manusia. Bersikap lembut kepada diri sendiri bukan berarti membenarkan semua tindakan atau berhenti bertumbuh. Kita justru belajar melihat diri dengan lebih jernih tanpa terus-menerus menghukum diri.
Mendengarkan diri juga bukan berarti menuruti semua perasaan. Ketika marah, kita tidak harus menyakiti. Ketika takut, kita tidak harus selalu mundur. Ketika lelah, kita tidak harus meninggalkan semua tanggung jawab. Kita hanya belajar berhenti sejenak dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi di dalam diriku?”.
Belajar mengizinkan rasa itu ada. Mengenalinya, menamainya, menerimanya, lalu perlahan merangkulnya.
Kita bisa mulai dari hal sederhana: memperhatikan napas dan tubuh, memberi jeda sebelum mengatakan “iya”, belajar mengatakan “tidak” ketika memang perlu, dan menyediakan waktu untuk melakukan sesuatu yang kita sukai tanpa harus menghasilkan apa-apa.
Karena hidup tidak selalu harus menjadi proyek untuk memperbaiki diri. Ada saatnya kita cukup hadir. Cukup mendengarkan. Cukup menemani diri sendiri.
Mungkin menjadi diri sendiri bukan tentang menemukan versi diri yang baru. Mungkin kita hanya sedang belajar kembali kepada diri yang selama ini terlalu lama kita tinggalkan.
Dan perlahan, kita bisa berkata: “Aku tidak harus selalu menjadi seseorang yang disukai semua orang. Aku hanya ingin belajar menjadi seseorang yang juga tidak meninggalkan dirinya sendiri.”
Referensi
Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101. https://doi.org/10.1080/15298860309032
Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-determination theory and the facilitation of intrinsic motivation, social development, and well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.1.68