Mental Health

Ada Apa dengan Kesehatan Mental Pemuda Kita?

NA
Nazla Amelia Yesica
· 5 menit baca
Gambar sampul untuk Ada Apa dengan Kesehatan Mental Pemuda Kita?

Realitas Dibalik Keterbukaan Emosional Remaja

Kondisi mental pemuda saat ini berada pada fase yang krusial. Meskipun hidup di era yang paling terhubung secara teknologi, generasi muda justru dihadapkan pada tingkat stres dan kelelahan emosional yang tinggi. Menariknya, pemuda modern terbukti jauh lebih terbuka untuk menyuarakan isu psikologis dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, keterbukaan ini beriringan dengan realitas lapangan yang memprihatinkan. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa secara global, 1 dari 7 remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan mental, yang menyumbang sekitar 15% dari total beban penyakit pada kelompok usia tersebut.

Di Indonesia, tingginya angka permasalahan kesehatan mental remaja terlihat nyata melalui data nasional. Hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja (atau 34,9%) berusia 10–17 tahun memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, satu dari dua puluh remaja (atau 5,5%) terdiagnosis mengalami gangguan mental (mental disorder) dalam periode yang sama.

Beban Psikologis di Era Digital: Social Comparison dan FoMO

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan derasnya arus informasi di media sosial yang tanpa henti memaparkan standar pencapaian yang tidak realistis. Fenomena ini rentan memicu kecenderungan membandingkan diri (social comparison) berpotensi mengikis rasa percaya diri secara bertahap dan berasosiasi dengan meningkatnya risiko Fear of Missing Out (FoMO) yaitu kecemasan sosial akibat rasa takut tertinggal dari pengalaman berharga atau pencapaian orang lain (Servidio et al., 2024). Kecenderungan membandingkan diri (social comparison), yaitu dorongan psikologis untuk menilai harga diri dan pencapaian pribadi berdasarkan kehidupan orang lain (Le Blanc-Brillon et al., 2025). Fenomena ini secara perlahan mengikis rasa percaya diri dan memicu kecemasan.

Benturan Ekspektasi dan Tuntutan Lingkungan

Tekanan psikologis ini diperberat oleh dua fenomena berbeda yang saling berkaitan satu sama lain. Di satu sisi, remaja dan pemuda dibayang-bayangi oleh quarter-life crisis, yaitu fase ketidakpastian emosional terkait arah karier, keputusan hidup, dan masa depan. Namun di sisi lain, mereka terpapar budaya hustle culture, sebuah penilaian sosial yang menuntut kesibukan konstan serta mengagungkan produktivitas tanpa batas. Rasa takut akan kegagalan masa depan berasosiasi dengan kecenderungan individu untuk memaksakan diri melampaui batas kemampuan fisik dan emosional. Pola perilaku ini diidentifikasi sebagai salah satu faktor risiko yang berkontribusi terhadap munculnya burnout.

​Paradoks Konektivitas Digital dan Ancaman Loneliness

Di saat yang sama, meskipun memiliki ribuan koneksi di dunia maya, rasa kesepian mendalam (loneliness) tetap menjadi ancaman serius akibat minimnya interaksi tatap muka yang berkualitas. Rasa kesepian dan terbatasnya interaksi langsung dapat berkaitan dengan munculnya indikasi perubahan emosi, penarikan diri dari lingkungan sosial, serta gangguan fisik seperti insomnia dan penurunan fokus pada usia muda.

​Jurang Akses dan Stigma Layanan Profesional

Meskipun eskalasi tekanan psikologis dan rasa kesepian di atas makin nyata dialami pemuda, hal ini belum diimbangi dengan penanganan kesehatan mental yang maksimal. Temuan I-NAMHS mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa dari sekian banyak remaja yang memiliki masalah kesehatan mental, hanya 2,6% yang mengakses layanan bantuan profesional (I-NAMHS, 2022). Hambatan utama ini umumnya bersumber dari stigma masyarakat yang belum sepenuhnya hilang, keterbatasan akses, hingga enggan mengakui bahwa diri mereka sedang membutuhkan pertolongan.

Langkah Realistis Menuju Digital Wellbeing dan Pemulihan

Menghadapi tantangan ini, penanganan yang realistis harus dimulai dari langkah-langkah kecil namun konsisten. Pemuda perlu beralih dari sekadar membatasi durasi layar (screen time) menuju penggunaan teknologi secara sadar (intentional use). Praktik digital detox berkala dan penataan batasan interaksi media sosial terbukti efektif menurunkan kecemasan sosial akibat Fear of Missing Out (FoMO) serta mencegah dampak buruk social comparison. Di saat yang sama, penguatan ruang aman (safe space) dan konseling sebaya (peer counseling) di tingkat komunitas maupun lingkungan pendidikan menjadi jembatan krusial untuk memberikan dukungan emosional awal tanpa rasa takut dihakimi stigma sosial.

Untuk mengatasi jurang akses yang memprihatinkan, di mana baru 2,6% remaja yang memanfaatkan bantuan profesional (I-NAMHS, 2022) diperlukan edukasi masif mengenai pemanfaatan layanan kesehatan mental inklusif dan terjangkau. Pemuda dan masyarakat perlu didorong untuk mengoptimalkan fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas yang terintegrasi jaminan BPJS Kesehatan, fasilitas konseling perguruan tinggi, maupun platform tele-counseling berlisensi. Pada akhirnya, menormalisasi konsultasi ke picolo atau konselor merupakan kunci utama untuk mengikis stigma, menegaskan bahwa mencari bantuan psikologis bukanlah bentuk kelemahan, melainkan tindakan sadar dan proaktif demi menjaga kualitas hidup serta ketahanan emosional di masa depan.

 

DAFTAR REFERENSI

​I-NAMHS (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey). (2022). Laporan Nasional Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Kesehatan Mental Remaja Indonesia. Pusat Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM).

World Health Organization. (2021/2024). Mental health of adolescents. World Health Organization. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health

Le Blanc-Brillon, J., et al. (2025). The associations between social comparison on social media and young adults’ mental health. Frontiers in Psychology, 16, Article 1597241. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1597241

Servidio, R., Bartolo, M. G., Palermiti, A. L., & Costabile, A. (2024). The role of social comparison and self-esteem in the relationship between FoMO and problematic social media use. Current Psychology, 43(17), 15204–15215. https://doi.org/10.1007/s12144-023-05522-8

Syahid, M. P. N., & Darmawanti, I. (2025). Fear of failure pada siswa SMA menjelang Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 12(2), 730–749.

Wahyuni, S., & Fitriani, A. (2025). Hubungan kesepian (loneliness) dan penggunaan media sosial terhadap gejala kecemasan dan distres psikologis pada usia muda. Jurnal Psikologi Kesehatan Indonesia, 13(1), 45–58.

Pratiwi, A. R., & Handayani, S. (2024). Efektivitas program peer counseling dalam menurunkan tingkat stres dan stigma kesehatan mental di lingkungan mahasiswa. Jurnal Psikologi Sosial dan Komunitas, 12(2), 101–114.

Ningsih, S. W., & Rahmawati, D. (2025). Aksesibilitas dan pemanfaatan layanan kesehatan mental berbasis BPJS Kesehatan di tingkat fasilitas kesehatan primer. Jurnal Kebijakan dan Layanan Kesehatan Indonesia, 14(1), 22–35.

 

NA

Ditulis oleh Nazla Amelia Yesica

Penulis tamu Narajiwa.