Mental Health

Bukan Egois, tapi Menjaga Diri : Saat Mencintai Diri Sendiri Menjadi Cara Tetap Waras

Penulis : Chessa Agni Maheswari

Pernah nggak sih, saat kamu akhirnya memilih menjaga diri sendiri, misalnya saat ambil waktu sebentar, bilang “nggak” ke hal yang melelahkan, atau memutuskan buat istirahat, tapi malah ada komentar yang bikin ragu?

Ada yang bilang kamu egois, ada yang merasa kamu terlalu mementingkan diri sendiri, ada juga yang menilai kamu berlebihan hanya karena berani mengapresiasi diri.

Tanpa sadar, langkah kecil untuk menjaga diri malah berubah jadi beban. Yang awalnya berniat baik, pelan-pelan digantikan rasa bersalah. Muncul pertanyaan di kepala, “Apa aku terlalu egois?” “Apa wajar kalau aku mendahulukan diriku sendiri?"

Padahal, kalau ditarik lebih dalam, self-love dan egois itu dua hal yang jauh berbeda, lho!

Dari dulu, kita selalu diajarkan untuk mendahulukan orang lain. Mengalah, memahami, menahan diri. 

“Nggak apa-apa capek, yang penting orang lain nyaman.” 

“Nggak apa-apa sedih, asal jangan merepotkan.”

Masalahnya, jika kebiasaan itu terus dipelihara, kita mulai kehilangan satu hal penting, yaitu diri sendiri.

Ketika kebahagiaan sepenuhnya digantungkan pada orang lain, ketika validasi selalu datang dari luar, maka saat orang orang pergi atau sibuk dengan hidupnya masing-masing yang tersisa hanyalah rasa kosong. Dalam psikologi, kondisi ini sering disebut sebagai self-less, kehilangan koneksi dengan diri sendiri.

Di titik inilah self-love bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.

Self-love bukan tentang mementingkan diri sendiri, tapi bertanggung jawab pada diri. Self-love bukan berarti selalu merasa benar, apalagi mengabaikan perasaan orang lain. Self-love adalah tentang mencintai diri secara bertanggung jawab.

Ketika sedang sedih, seseorang yang menerapkan self-love tidak melampiaskan emosinya ke orang lain. Ia memberi ruang untuk dirinya sendiri, memahami emosinya, lalu memprosesnya dengan sehat. Sebaliknya, egoisme justru sering muncul saat seseorang memaksakan kehendaknya tanpa peduli dampak bagi sekitar.

Egois itu soal menang sendiri. Self-love itu soal menjaga diri tanpa menyakiti. Mencintai diri sendiri berarti tahu kapan harus berkata “cukup”, kapan harus berhenti, dan kapan harus memilih diri sendiri tanpa harus menjatuhkan orang lain.

Menariknya, self-love yang sehat justru membuat hubungan dengan orang lain jadi lebih baik. Orang yang berdamai dengan dirinya sendiri cenderung tidak mudah iri, tidak haus validasi, dan tidak memproyeksikan luka batinnya ke sekitar.

Sebaliknya, egoisme sering dipenuhi amarah, persaingan, dan dorongan untuk selalu unggul. Bukan karena percaya diri, tapi karena ada kekosongan yang tidak pernah benar-benar diselesaikan. Self-love mengajarkan seseorang untuk merawat diri, menyenangkan diri, dan bertanggung jawab atas pilihannya. 

Self-love juga bukan soal afirmasi berlebihan atau memanjakan diri tanpa batas, namun hadir dalam hal hal sederhana seperti makan dengan cukup, tidur dengan layak, menjaga kesehatan mental, dan berani menolak sesuatu yang menguras energi.

Berbeda dengan egoisme yang menghalalkan segala cara demi tujuan pribadi, self-love justru membuat seseorang lebih sadar batas, baik batas dirinya maupun batas orang lain. Ketika seseorang memahami kekurangan dan kelebihannya, ia tidak lagi menggantungkan kebahagiaan pada orang lain. Ia mulai fokus mengembangkan potensi, energi, dan kualitas yang ada dalam dirinya.

Di tengah dunia yang menuntut banyak hal, mencintai diri sendiri sering disalahpahami. Padahal, self-love bukan tentang menjauh dari dunia, tapi memastikan diri cukup kuat untuk menjalaninya. Mencintai diri sendiri bukan berarti hidup sendirian tanpa orang lain. Justru sebaliknya, dengan diri yang terawat dan seimbang, seseorang bisa hadir lebih sehat bagi sekitarnya.

Karena kalau bukan kita yang menjaga diri sendiri, siapa lagi?

Referensi:

Henschke, E., & Sedlmeier, P. (2021). What is self-love? Redefinition of a controversial construct. The Humanistic Psychologist . Advance online publication. http://dx.doi.org/10.1037/hum0000266

Safarina, N. A., Rahmadani, C. N., Lubis, R. D., Zahara, N., & Muslimah, M. (2024). Self Love: Strategi menjaga kesehatan mental pada santri Dayah Madinatuddiniyah Jabal Nur Aceh Utara. Jurnal Abdi Anjani, 2(2), 175–179. https://doi.org/10.29303/anjani.v2i2.1439

Rani, E. N., Sulistiawan, I., Yunita, R. D., Ifsyaussalam, R. A., Ariyani, V., & Wijaya, Y. D. (2022). Pentingnya self love serta cara menerapkannya dalam diri. Science and Education Journal (SICEDU), 1(2), 480–486. https://doi.org/10.31004/sicedu.v1i2.70

Self Love dan Egois. Serupa Tapi Tak Sama! (n.d.). ibunda.id. https://www.ibunda.id/articles/self-love-dan-egois-serupa-tapi-tak-sama

Rsmr, S. (2023, April 4). SELF-LOVE ≠ SELFISH(Cinta diri tidak sama dengan egois). RS Mardi Rahayu. https://www.rsmardirahayu.com/self-love-%E2%89%A0-selfishcinta-diri-tidak-sama-dengan-egois/

’Aisyiyah, S. (2023, August 31). Self-Love vs Selfish: Antara Cinta pada Diri Sendiri dan Egois. Majalah Suara ’Aisyiyah. https://suaraaisyiyah.id/self-love-vs-selfish-antara-cinta-pada-diri-sendiri-dan-egois/

Avatar Admin Narajiwa
Ditulis oleh Admin Narajiwa

Penulis di Narajiwa.