Pernah merasa orang-orang di sekitar sudah mengetahui arah hidupnya, sementara kita masih bertanya-tanya harus melangkah ke mana? Ada yang mulai bekerja, melanjutkan pendidikan, atau membangun hubungan serius. Di sisi lain, kita mungkin masih mempertimbangkan pilihan yang terasa sama-sama berisiko.
Ketidakpastian semacam ini dapat muncul ketika seseorang menghadapi keputusan karier, perubahan hubungan, atau tuntutan untuk mencapai target tertentu. Namun, tidak semua orang merespons situasi tersebut dengan cara yang sama. Salah satu konsep psikologi yang dapat membantu kita memahami cara menghadapi masa depan yang belum jelas adalah hope atau harapan.
Ketika Tidak Tahu Harus Melangkah ke Mana
Masa dewasa awal sering diwarnai eksplorasi identitas, pekerjaan, dan hubungan. Arnett (2000) menyebut periode ini sebagai emerging adulthood, yaitu fase perkembangan yang ditandai oleh eksplorasi identitas dan berbagai kemungkinan hidup. Dalam proses tersebut, individu mulai dihadapkan pada pilihan-pilihan penting yang dapat memengaruhi masa depannya. Sebagian orang mungkin merasa bingung menentukan arah hidup, meragukan keputusan yang diambil, atau membandingkan pencapaiannya dengan orang lain yang tampak lebih dahulu mencapai berbagai target kehidupan.
“Sebenarnya aku mau jadi apa, ya?”
“Bagaimana kalau aku salah memilih jalan?”
“Apa aku bisa mencapai hal-hal yang selama ini aku impikan?”
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas ketika kita mulai memikirkan masa depan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk menghadapi ketidakpastian menjadi penting.
Individu tidak selalu harus memiliki jawaban pasti tentang masa depannya, tetapi perlu melihat bahwa masih ada kemungkinan dan jalan yang dapat diusahakan. Hal ini membawa kita pada konsep hope atau harapan, yang dalam psikologi memiliki makna lebih luas daripada sekadar berpikir positif.
Hope Bukan Sekadar Berpikir Positif
Dalam Hope Theory, Snyder (2002) menjelaskan harapan melalui dua komponen utama. Pertama, pathways thinking, yaitu kemampuan memikirkan berbagai jalan untuk mencapai tujuan. Kedua, agency thinking, yaitu keyakinan dan motivasi untuk menempuh jalan tersebut.
Bayangkan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sering bertanya, “Setelah lulus, aku mau ke mana, ya?”.
Ia melihat teman-temannya mulai bekerja, sementara dirinya masih belum yakin dengan pilihan kariernya.
Alih-alih memaksa diri untuk segera memiliki semua jawaban, ia mulai mencari informasi tentang bidang pekerjaan yang menarik baginya, mencoba mengikuti pelatihan gratis, atau bertanya kepada kakak tingkat tentang pengalaman mereka bekerja.
Ia mungkin masih bingung, tetapi setidaknya mulai mengetahui beberapa pilihan yang bisa dicoba. Inilah contoh pathways thinking: menyadari bahwa ada lebih dari satu jalan yang dapat ditempuh.
Namun, mengetahui berbagai pilihan saja terkadang belum cukup. Ada kalanya kita sudah tahu apa yang ingin dilakukan, tetapi masih ragu untuk memulainya.
“Aku sebenarnya tertarik melamar pekerjaan itu, tetapi bagaimana kalau ditolak?”
“Aku ingin mencoba bidang baru, tetapi apa aku cukup mampu?”
Di sinilah agency thinking berperan. Bukan berarti seseorang harus selalu percaya diri atau tidak boleh merasa takut, melainkan tetap memiliki dorongan untuk mencoba meskipun keraguan masih ada. Ia bisa mulai dengan memperbaiki CV, mengirim satu lamaran, atau mempelajari keterampilan yang dibutuhkan.
Menumbuhkan Harapan Tanpa Memaksakan Optimisme
Lantas, bagaimana harapan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, mulai dari tujuan kecil. Kita tidak harus langsung mengetahui seluruh arah hidup. Cukup mulai dengan langkah sederhana, seperti mencari informasi pekerjaan atau mencoba keterampilan baru. “Aku belum tahu ingin menjadi apa, tetapi aku bisa mulai mencari tahu.”
Kedua, siapkan alternatif. Jika rencana pertama tidak berjalan, bukan berarti semua kesempatan tertutup. “Kalau jalan ini belum berhasil, mungkin ada jalan lain yang bisa kucoba.”
Ketiga, tetap realistis. Harapan bukan berarti mengabaikan keterbatasan, melainkan mencari langkah yang sesuai dengan kondisi kita. “Aku punya keterbatasan, tetapi aku bisa mencari cara yang paling memungkinkan saat ini.”
Terakhir, beri ruang untuk merasa tidak baik-baik saja. Perasaan takut, kecewa, dan bingung adalah hal yang wajar. Kita tidak harus selalu optimistis untuk tetap melangkah. “Aku boleh merasa takut, tetapi aku tidak boleh untuk berhenti mencoba.”
Tidak Harus Mengetahui Semuanya Hari Ini
Menghadapi masa depan bukan perlombaan yang mengharuskan setiap orang mencapai tahapan hidup pada waktu yang sama. Harapan juga bukan tuntutan untuk selalu optimistis atau menyelesaikan semua masalah sendirian.
“Kita tidak harus tahu persis ke mana hidup akan membawa kita, selama kita masih percaya bahwa selalu ada jalan untuk terus melangkah menggapai tujuan.”
Referensi:
Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480. https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469
Hasyim, F. F., Setyowibowo, H., & Purba, F. D. (2024). Factors contributing to quarter life crisis on early adulthood: A systematic literature review. Psychology Research and Behavior Management, 17, 1–12. https://doi.org/10.2147/PRBM.S438866
Snyder, C. R. (2002). Hope theory: Rainbows in the mind. Psychological Inquiry, 13(4), 249–275. https://doi.org/10.1207/S15327965PLI1304_01